Hari itu pertama kali aku datang ke Kota Bengkulu untuk kuliah pertamaku.Tidak banyak yang dapat ku kerjakan selain membersihkan kos dan merapikan barang-barang bawaanku yang tampak seperti kapal pecah.
Waktu berlalu begitu cepat,hingga suatu malam aku berkunjung ke rumah kakak tingkatku yang kebetulan mengambil kuliah antar semester,kami berbincang masalah perkuliahan yang telah dialaminya setahun belakangan.Di sela cerita itu,tak sengaja kulihat papan catur dan kuajak kakak tingkatku untuk kembali mengasah strategi juga kemampuannya dalam permainan itu.Setengah jam berlalu,aku tampak kesulitan bergerak juga tampak bodoh dengan strategiku.Jemarinya tampak cepat melesatkan biduk yang seolah tiada memikirkan lagi langkahnya sedangkan aku harus berpikir panjang untuk memulai langkahku
Aku mulai panik ketika yang tersisa hanyalah "King",pdahal dari awal aku berharap menang juga ingin membuktikan bahwa aku lebih unggul dari kakak tingkatku,ternyata itu sebuah pemikiran yang salah.Aku terlalu cepat menilai bahwa dia hanya bermain tanpa berpikir apa yang selanjutnya akan dilakukan,dia lebih tua dariku mungkin sebelum aku dia telah mengalami hal yang sama sepertiku dan belajar banyak hal dari permainan ini sebelum aku.
Hasil kami "remis" rajaku tak bisa berjalan.Namun aku sadar betul bahwa aku telah kalah,telah salah dalam berpikir serta menilai orang lain.
(sambil menutup papan catur)
"Mengapa aku menyisakan Rajamu tadi?,karena dalam kehidupan kita tak boleh memusnahkan suatu bangsa,pemikiran atau hal lain yang tiada berkenan di hati kita.Suatu hari belum tentu yang ingin dimusnahkan itu akan berkembang menjadi hal yang buruk.Bahkan bisa jadi semua itu lebih baik dari kita,berkat kebijaksanaan"ujar kakak tingkatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar